Hiruk pikuk kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud (81) nyata sudah, bahkan
ketika kakinya belum menginjakkan Tanah Air tercinta. Masyarakat Indonesia,
terutama netizen, seolah
terbelah sikap untuk sesuatu yang belum pasti.
Sikap
cinta berlebihan dan benci berlebihan (hater and lover)
membuat air kebijaksanaan tak lagi jernih. Ada hal yang sulit disambungkan
menjadi relevan, padahal kenyataan belum terjadi. Sebaliknya, yang realistis
menjadi kabur dalam penghayatan.
Alangkah
lebih produktifnya jika kita menjadikan kunjungan ini sebagai refleksi. Bahwa
orang Arab adalah saudara dekat bangsa Indonesia sejak lama (bahkan sebelum
merdeka), yang dengan kemampuan komunikasinya yang akulturatif, Indonesia
tercatat sebagai negara Muslim terbesar di dunia sejak lama hingga sekarang.
Bahwa orang Arab adalah pendatang yang selalu mampu menyesuaikan
diri dengan bumi tempat mereka berpijak, sehingga terutama bagi umat Muslim,
karunia nikmat iman dan Islam bisa dirasakan sekaligus sulit diingkari atas
peran mereka selama ini.
Mari berkaca pada Sunan Gunung Jati, seorang habib (keturunan langsung ke-21 Nabi Muhammad SAW dari silsisah cucu kesayangan, Sayid Husein), yang secara empirik berjasa menyebarkan agama Islam, terutama di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.
Mari berkaca pada Sunan Gunung Jati, seorang habib (keturunan langsung ke-21 Nabi Muhammad SAW dari silsisah cucu kesayangan, Sayid Husein), yang secara empirik berjasa menyebarkan agama Islam, terutama di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta.
Sulit menafikan sejarah bahwa keyakinan sekaligus berkah iman di
kawasan ini disebarluaskan oleh Eyang Dalem Abdulmanaf dari Kampung Mahmud,
yakni keturunan ketujuh Sunan Gunung Jati. Bagi Muslim Bandung, maka sulit
untuk tidak berterima kasih kepada orang Arab.
Habib (Seikh) Muhammad Syarif Hidayatullah, nama asli Sunan
Gunung Jati, adalah sejatinya komunikator andal. Ia mampu melakukan persuasi
dengan cara soft power guna mengubah keyakinan lama ke ajaran
Islam pada tiga provinsi primer di Indonesia tersebut.
Lalu,
bagaimanakah Sunan Gunung Jati berbicara di ruang publik? Apa metode komunikasi
yang dilakukannya? Siapa saja peer
group komunikasi yang
dilibatkannya saat menerapkan komunikasi massa pada masanya?
No comments:
Post a Comment